Cari Blog Ini

Minggu, 26 Desember 2010

where I was there

tempat itu tak seluas lapangan sepakbola
tempat itu tak seterang perumahan pada umumnya
tempat itu kumuh, meski bukan tempat sampah
tempat itu jelek, sejelek sistem udara yang keluar masuk disana
dan tempat itu mempunyai keunikan
unik, karena disana ada berjajar barisan besi tua
mereka selalu terkunci rapat
mereka membatasi semua pergerakan
mereka menjadi bentang pemisah antara manusia penghuninya
disana gelap
disana kotor
disana udaranya sesak
disana sering terjadi cucuran air mata kerinduan
cucuran air mata kasih sayang
pelukan rindu seorang ibu
bahkan isak tangis dalam ucapan doa bukan hal langka disana
aku pernah hidup disana
bersama 6 sahabat berbeda hati
hidup dengan keterbatasan manusia normal yang menghirup udara diluar jajaran besi tua lusuh itu
hidup dengan penuh harapan untuk hidup diluar jajaran besi tua berkarat itu
melihat pohon, mobil, dan bangunan lainnya
bukan hanya melihat tembok dan jajaran besi tua saja
memakan makanan sesuai harapan sang perut
bukan menerima apa yang disajikan
mendengarkan musik dengan berbagai macam aliran
bukan mendengarkan teriakan-teriakan tak jelas dari sang penghuni
yap, disana memang berbeda
itu mungkin alasan terkuat mengapa ada jajaran besi tua di sebuah ruangan
besi-besi itu memisahkan antara manusia yang terbodohi hukum dan manusia yang membodohi hukum
besi-besi itu memisahkan udara yang halus dan lembut dengan udara sumpek nan bau
terimakasih untuk Indonesia
Negeriku tercinta
atas kebobrokan sistem hukum di Negeri ini saya masih hidup
saya (masih) bebas...
dan yang akan selalu saya ingat adalah dimana emosi menentukan semua langkah kita ke depannya
semoga hidup ini semakin membaik
dan untuk yang telah ada sekarang, biarkan itu tetap terjaga Tuhan
biarkan kebahagiaan dan aroma kehidupan aku tetap terjaga
disini, bukan disana (lagi).Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Arsip Blog