Gitar, merupakan satu alat music yang paling saya kuasai. Alat bersenar 6 ini tampak begitu pas dengan tubuh saya. Tidak seperti bass, yang notabene memang berukuran lebih besar dan berat. Gitar memang lebih cocok saya gunakan daripada beberapa alat music lainnya, meskipun ada ketertarikan saya terhadap alat music lainnya. Tapi saya masih terlalu mencintai gitar.
Saya berkenalan langsung dengan gitar sejak zaman saya berseragam puti-merah. Yap, tentu saja waktu saya masih SD, tepatnya saat saya menginjak-injak bangku kelas 6. Hahaha. Namun pada saat itu saya hanya diajarkan satu buah kunci untuk memainkannya, oleh si om saya diajarkan kunci C major. Saya ingat betul saat itu saya kesulitan menggunakannya, jari-jemari saya masih terlalu lemah untuk memainkan gitar. Tapi dari situlah keinginan pertama saya di dunia music bermula.
Memasuki dunia SMP, saya mulai mengenal banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak yang sudah menguasai gitar. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Agah Nugraha, my best partner in everyway. Dia sangat lihai bermain gitar, dia mengenal barbagai music, dan dia juga sangat tahu tentang music karena dia hidup di keluarga yang memang bermusik. Dari mulai kakak pertamanya yang seorang gitaris, kakak keduanya yang jago banget bermain drum. Dan kalau kalian liat jari-jemarinya begitu panjang dan kokoh. Terlihat lemas tapi kokoh, itulah tangan seorang Agah. Satu lagi yang saya ambil dari dirinya ialah memainkan gitar untuk menarik hati para wanita. Damn. Saya sangat menyukai hal itu. Bagaimanapun seorang gitaris selalu berada di depan saat perform di stage. Dan wanita pasti memalingkan pandangan mereka dari vokalis bila permainan gitar kita begitu indah terdengar di telinganya. Hahahaha.
Saya seorang otodidak dalam gitar, sama seperti sahabat saya. Tak perlu menggunakan jasa seorang guru les gitar untuk membuat permainan kita jago. Dan setiap Agah memainkan gitar saya selalu memasang mata dan telinga saya untuk mendapatkan ilmunya. Karena perlu kalian ketahui memainkan gitar itu tidak cukup hanya melihat apa yang mereka mainkan, tapi perlu mendengarkan juga, agar telinga kita terlatih untuk menangkap suara yang dia mainkan. Dan pada akhir kelas 2 SMP saya dan kakak saya dibelikan gitar oleh orangtua. Itu adalah gitar pertama, Yamaha. Terlihat bagus karena saat itu saya masih amatir, belum mengenal banyak gitar. Setelah sekarang tahu, saya jarang memainkannya lagi, sound yang dihasilkan gitar Yamaha itu jelek. Damn.
Akhirnya SMA saya bareng lagi bersama Agah, dan saat itu kami sudah sangat kompak sekali. Kami membentuk band, Schotlet kalau tidak salah namanya. Kami sering main dan tampil di beberapa festival music di Kuningan. Cukup untuk menambah pengalaman saya di dunia music. Sebelum akhirnya band kami terpecah hanya karena suara sang vokalis yang jelek dan so keren dinilai menjadi point minus di band kami. Setelah perpecahan itu kami berpencar, Agah bermain dengan band anak-anak senior. Saya vakum meski masih tetap main gitar. Dan barulah saat saya kelas 3 saya sering diajak ngeband oleh anak-anak kelas untuk acara ulang tahun SMA sampai acara perpisahan. Tapi itu hanya iseng belaka. Karena tak jarang di band itu saya harus memainkan bass. Hahahaha. Untungnya saya lihai, karena saya suka mengulik beberapa scale dari beberapa majalah music yang saya baca.
Tapi sayangnya saya tidak mempunyai senjata ampuh untuk meramaikan dunia music di panggung perkuliahan. Saya berharap saya punya gitar electric, itu merupakan langkah awal yang paling pasti menuju dunia music. Ibanez, fender, atau Yamaha juga tak apa. Atau bahkan Cort X6 juga saya impikan. Namun orangtua saya tidak semurah hati itu untuk mengembangkan sisi hobby saya. Padahal di otak saya ini sudah terkumpul gagasan-gagasan music, mulai dari nama band saya nanti, jenis music yang dimainkan, dan apapun konsepnya sudah dan akan terus saya pikirkan. Karena saya (maaf) membenci aliran dan jenis music melayu yang menguasai Indonesia. Kadang saya ingin berontak untuk menghancurkan mereka. Mereka yang menjual sisi kelabu dari kisah percintaan manusia.
Suatu hari nanti mungkin saya harus membelinya. Karena kemampuan saya sudah tidak bisa diaplikasikan di gitar akustik lagi, saya harus sudah mengeksplornya ke gitar electric.
Terdengar seperti seorang ksatria tanpa senjata. hahahaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar