Cari Blog Ini

Senin, 20 September 2010

episode IV

Episode terakhir yang Saya buat. Lama Saya tak berkomunikasi dengan Dhea dan saat Saya putus dengan Gyna dia tahu dan dia kita pun mulai smsan lagi. Saya memang sayang Gyna, tapi rasa sakit hati saat putus dengan Gyna lebih besar lagi. Itu karena alasan Gyna yang aneh dan sampai saat ini belum Saya temukan jawabannya. Itu Oktober,tepat satu bulan sebelum ulang tahun Saya. Semakin sakit hati karena setiap ulang tahun Saya selalu sendiri. Dan Gyna memang tidak mengucapkan, tapi hanya Dhea yang menelepon tengah malam mengucapkan. Dia memang baik, Dhea memang bukan yang tercantik tapi dialah yang paling baik sampai saat ini. Waktu terus berlalu, datang menghilang sering terjadi karena jarak memang memisahkan juga. Dan February menjelang ulang tahun Dhea, Saya ingin memberinya kejutan. Karena dulu Dhea sangat menyukai The Changcuters Saya mencoba mencari merchandise dari The Changcuters dan Saya tak menemukannya. Sampai akhirnya setelah browsing di internet Saya menemukannya, dan sesegera mungkin Saya mencarinya. Sangat sulit,hingga akhirnya Saya pesan secara online. Saya memilih memberinya baju The Changcuters edisi terbarunya saat itu. Namun kendala datang lagi, Saya tidak punya uang cukup hingga akhirnya Saya membuka tabungan Saya. 2 hari menjelang ulang tahunnya barang belum dikirim meski uang sudah ditransfer. Dan Saya memutuskan mengambil ke orang dari manajemennya. Tenang hati saat barang sudah didapat. Dan Saya pulang kerumah untuk mengantarkannya. Pada malamnya sebelum Minggu Dhea berulang tahun, Saya mencoba meneleponnya. Tapi apa daya, Dhea sedang menerima telepon dari orang lain. Bete dan sakit hati rasanya. Pasti orng itu special sekali. Minggu siangnya Saya kerumah Agah untuk minta dibungkuskan kado karena Agah punya toko buku. Saya disuruh memilih bungkusnya. Asli, Saya masih bete dengan kejadian semalam jadi saat ngobrol sama Agah dia menawarkan bungkus kado yang beda. Saya tahu maksud Agah adalah agar Dhea mengingatnya, namun beda dalam pikiran Saya. Saya ingin menunjukkan bahwa Saya kesal padanya dengan kado itu. Dipilihlah bungkus buku yang berwarna gelap. Saya remas-remas agar nampak kusut. Setelah itu Saya masukkan selembar kertas ucapan sekaligus menyampaikan kekecewaan yang sampai hari ini tidak diketemukan lagi kertasnya tanpa sempat Dhea membacanya. Dan diluar kadonya saat tulis kalimat membuat si kado tampak norak dan jelek. Tapi Saya puas. Sorenya Saya berangkat untuk kerumah Dhea. Ditemani Aris untungnya,karena Saya belum pernah kerumah Dhea. Dan saat pertama kali Aris melihat kadonya dia tertawa dan salut,kado pertama yang beda yang dia lihat. Hujan mulai turun saat kami berangkat, dan sesampainya disana kami tersesat dan disesatkan nenek tua dijalan. Barulah setelah Windy(adiknya Dhea) menghampiri kami merasa tenang. Dan saat Saya memberikan kadonya Windy terkejut melihat kadonya(buruk sekali tampilannya memang). Dan Saya pun menitip pesan jangan sampai dibuka sampai Dhea pulang,dan jangan beritahu bahwa Saya yang memberikannya. Karena sebenarnya Saya tidak mau Dhea tahu, dan entah kenapa Saya ingin Dhea berpikir bahwa yang memberi itu bukan Saya. Tapi sialnya saat malal perjalanan pulang Dhea menelepon dan mengucapkan terimakasih. GAGAL sudah kejutan itu. Dhea tahu kado itu, tapi untungnya selembar kertas yang Saya tulis juga hilang. Entah bagaimana cara Windy membukanya.
Sampai hari ini saya masih berhubungan dengannya dan sekarang dia di Jakarta dan akan tinggal disana untuk kuliah. Jarak tak pernah bersahabat dengan kami. Dan Jakarta,ah…Jakarta. “Ah Jakarta” bisa terasa beda saat kita mengucapkannya dengan nada yang beda. Kekhawatiran tak beralasan Saya tentang pergaulan Jakarta dengannya sering terpikirkan. Entah,saya selalu khawatir akan ibukota dan isinya. Dan dengan begitu cepat ataupun lambat dia akan menemukan lelaki yang akan menjadi seorang yang special dihatinya. Karena saya sadar, ini bukan waktu SMA lagi, ini tidak sedekat saat sekolah, dan frekuensi pertemuan pun jauh berbeda dengan SMA. Dan saya berdoa semoga dia tidak bertemu orang yang mungkin bisa saja menghancurkannya. Menghancurkan mimpi orangtuanya. Semoga itu tidak terjadi padanya,dan semoga itu hanya kekhawatiran kosong seorang Ady Prawira Riandi. Dan disaat Dhea menemukan kekasihnya, percayalah saya disini akan selalu tersenyum melihat kebahagiaannya. Karena saya sendiri belum tahu kapan perasaan saya ini berubah terhadapnya,meski sudah direntangkan jarak. Tak apalah,masih ada banyak waktu untuk menghilangkan rasa itu.
Saya menulis ini bukan karena saya berharap begitu besar kepadanya,namun saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan sejak dulu. Dan setelah tulisan ini selesai saya akan merasa lega sekali. Dan inspirasi terbesarnya setelah mendengarkan lagu My Sunshine dari Copeland. Saya terdiam saat mendengar lagu itu dan merasa mereka menciptakan lagu itu untuk saya. Dan Dhea, waktu selalu melarang kita untuk bersama. Karena saat saya sendiri kamu berdua,dan saat saya berdua kamu sendiri. Tuhan belum(hahaha,masih saja berharap) memberi kesempatan. Ekspektasi besar Saya berikan untuk yang satu ini.
Tuhan belum memberikan kenyamanan seperti yang Saya rasakan bersama Dhea. Itu yang sedang Saya cari sampai saat ini, sampai saat dimana Saya hanya melihat ke belakang. Saya mencari kenyamanan hati seperti itu, kenyamanan jiwa yang tak bisa dijelaskan, dan tanpa Dhea sadari dia menciptakan pribadi Ady Prawira Riandi untuk mencintai gadis-gadis seperti Dhea meski dalam versi berbeda. Dan anehnya tetap dirinya yang terganti disini, di kesepian ini, di kesendirian ini. Terimakasih Dhea Febryanita Putri.
“ you are my sunshine, my only sunshine. You make me happy when skies are grey. You never know dear how much I love you. Please don’t take my sunshine away.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Arsip Blog