tempat itu tak seluas lapangan sepakbola
tempat itu tak seterang perumahan pada umumnya
tempat itu kumuh, meski bukan tempat sampah
tempat itu jelek, sejelek sistem udara yang keluar masuk disana
dan tempat itu mempunyai keunikan
unik, karena disana ada berjajar barisan besi tua
mereka selalu terkunci rapat
mereka membatasi semua pergerakan
mereka menjadi bentang pemisah antara manusia penghuninya
disana gelap
disana kotor
disana udaranya sesak
disana sering terjadi cucuran air mata kerinduan
cucuran air mata kasih sayang
pelukan rindu seorang ibu
bahkan isak tangis dalam ucapan doa bukan hal langka disana
aku pernah hidup disana
bersama 6 sahabat berbeda hati
hidup dengan keterbatasan manusia normal yang menghirup udara diluar jajaran besi tua lusuh itu
hidup dengan penuh harapan untuk hidup diluar jajaran besi tua berkarat itu
melihat pohon, mobil, dan bangunan lainnya
bukan hanya melihat tembok dan jajaran besi tua saja
memakan makanan sesuai harapan sang perut
bukan menerima apa yang disajikan
mendengarkan musik dengan berbagai macam aliran
bukan mendengarkan teriakan-teriakan tak jelas dari sang penghuni
yap, disana memang berbeda
itu mungkin alasan terkuat mengapa ada jajaran besi tua di sebuah ruangan
besi-besi itu memisahkan antara manusia yang terbodohi hukum dan manusia yang membodohi hukum
besi-besi itu memisahkan udara yang halus dan lembut dengan udara sumpek nan bau
terimakasih untuk Indonesia
Negeriku tercinta
atas kebobrokan sistem hukum di Negeri ini saya masih hidup
saya (masih) bebas...
dan yang akan selalu saya ingat adalah dimana emosi menentukan semua langkah kita ke depannya
semoga hidup ini semakin membaik
dan untuk yang telah ada sekarang, biarkan itu tetap terjaga Tuhan
biarkan kebahagiaan dan aroma kehidupan aku tetap terjaga
disini, bukan disana (lagi).Amien.
Cari Blog Ini
Minggu, 26 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
my eyes
and when I tried to hide my jealousy away that is the point that I'll never do again...
that was fatal...
she asked me why, she asked me what but I just silence...
and of course my eyes, I still can't pretend that my love grows so quickly...
in the other side of my eyes, I still can't catch her eyes...
because of it, she will knows how much I love her...
that was fatal...
she asked me why, she asked me what but I just silence...
and of course my eyes, I still can't pretend that my love grows so quickly...
in the other side of my eyes, I still can't catch her eyes...
because of it, she will knows how much I love her...
Rabu, 15 Desember 2010
so what does she think?

she brings me to something new...
she gives me new spirit...
she is freak...
i love the way when she smiled...
although i never know when she was crying...
it doesn't matter that i don't care about her...
she doesn't know what i was thinking about, what i was dreaming about...
she never knows about that, about me, about anything on my mind...
I'll bet that she's a girl who I have been looking for...
tremendous love so far...
and "time" , why doesn't you answer my questions, my dreams, my love?
oh come on, i'd rather kicked my ass by a room full of people than trap in this situation...
i'm just trying to cover her heart from the way some people view...
i'm scared if it could make her sad...
because she knows that i won't see her tears...
she is different...
the special one...
my special one...
"have i been waiting for nothing? NOT YET!!!!!" hahahahahahaha...
wise man's whisper...
Rabu, 08 Desember 2010
where is my guitar?
Gitar, merupakan satu alat music yang paling saya kuasai. Alat bersenar 6 ini tampak begitu pas dengan tubuh saya. Tidak seperti bass, yang notabene memang berukuran lebih besar dan berat. Gitar memang lebih cocok saya gunakan daripada beberapa alat music lainnya, meskipun ada ketertarikan saya terhadap alat music lainnya. Tapi saya masih terlalu mencintai gitar.
Saya berkenalan langsung dengan gitar sejak zaman saya berseragam puti-merah. Yap, tentu saja waktu saya masih SD, tepatnya saat saya menginjak-injak bangku kelas 6. Hahaha. Namun pada saat itu saya hanya diajarkan satu buah kunci untuk memainkannya, oleh si om saya diajarkan kunci C major. Saya ingat betul saat itu saya kesulitan menggunakannya, jari-jemari saya masih terlalu lemah untuk memainkan gitar. Tapi dari situlah keinginan pertama saya di dunia music bermula.
Memasuki dunia SMP, saya mulai mengenal banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak yang sudah menguasai gitar. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Agah Nugraha, my best partner in everyway. Dia sangat lihai bermain gitar, dia mengenal barbagai music, dan dia juga sangat tahu tentang music karena dia hidup di keluarga yang memang bermusik. Dari mulai kakak pertamanya yang seorang gitaris, kakak keduanya yang jago banget bermain drum. Dan kalau kalian liat jari-jemarinya begitu panjang dan kokoh. Terlihat lemas tapi kokoh, itulah tangan seorang Agah. Satu lagi yang saya ambil dari dirinya ialah memainkan gitar untuk menarik hati para wanita. Damn. Saya sangat menyukai hal itu. Bagaimanapun seorang gitaris selalu berada di depan saat perform di stage. Dan wanita pasti memalingkan pandangan mereka dari vokalis bila permainan gitar kita begitu indah terdengar di telinganya. Hahahaha.
Saya seorang otodidak dalam gitar, sama seperti sahabat saya. Tak perlu menggunakan jasa seorang guru les gitar untuk membuat permainan kita jago. Dan setiap Agah memainkan gitar saya selalu memasang mata dan telinga saya untuk mendapatkan ilmunya. Karena perlu kalian ketahui memainkan gitar itu tidak cukup hanya melihat apa yang mereka mainkan, tapi perlu mendengarkan juga, agar telinga kita terlatih untuk menangkap suara yang dia mainkan. Dan pada akhir kelas 2 SMP saya dan kakak saya dibelikan gitar oleh orangtua. Itu adalah gitar pertama, Yamaha. Terlihat bagus karena saat itu saya masih amatir, belum mengenal banyak gitar. Setelah sekarang tahu, saya jarang memainkannya lagi, sound yang dihasilkan gitar Yamaha itu jelek. Damn.
Akhirnya SMA saya bareng lagi bersama Agah, dan saat itu kami sudah sangat kompak sekali. Kami membentuk band, Schotlet kalau tidak salah namanya. Kami sering main dan tampil di beberapa festival music di Kuningan. Cukup untuk menambah pengalaman saya di dunia music. Sebelum akhirnya band kami terpecah hanya karena suara sang vokalis yang jelek dan so keren dinilai menjadi point minus di band kami. Setelah perpecahan itu kami berpencar, Agah bermain dengan band anak-anak senior. Saya vakum meski masih tetap main gitar. Dan barulah saat saya kelas 3 saya sering diajak ngeband oleh anak-anak kelas untuk acara ulang tahun SMA sampai acara perpisahan. Tapi itu hanya iseng belaka. Karena tak jarang di band itu saya harus memainkan bass. Hahahaha. Untungnya saya lihai, karena saya suka mengulik beberapa scale dari beberapa majalah music yang saya baca.
Tapi sayangnya saya tidak mempunyai senjata ampuh untuk meramaikan dunia music di panggung perkuliahan. Saya berharap saya punya gitar electric, itu merupakan langkah awal yang paling pasti menuju dunia music. Ibanez, fender, atau Yamaha juga tak apa. Atau bahkan Cort X6 juga saya impikan. Namun orangtua saya tidak semurah hati itu untuk mengembangkan sisi hobby saya. Padahal di otak saya ini sudah terkumpul gagasan-gagasan music, mulai dari nama band saya nanti, jenis music yang dimainkan, dan apapun konsepnya sudah dan akan terus saya pikirkan. Karena saya (maaf) membenci aliran dan jenis music melayu yang menguasai Indonesia. Kadang saya ingin berontak untuk menghancurkan mereka. Mereka yang menjual sisi kelabu dari kisah percintaan manusia.
Suatu hari nanti mungkin saya harus membelinya. Karena kemampuan saya sudah tidak bisa diaplikasikan di gitar akustik lagi, saya harus sudah mengeksplornya ke gitar electric.
Terdengar seperti seorang ksatria tanpa senjata. hahahaha
Saya berkenalan langsung dengan gitar sejak zaman saya berseragam puti-merah. Yap, tentu saja waktu saya masih SD, tepatnya saat saya menginjak-injak bangku kelas 6. Hahaha. Namun pada saat itu saya hanya diajarkan satu buah kunci untuk memainkannya, oleh si om saya diajarkan kunci C major. Saya ingat betul saat itu saya kesulitan menggunakannya, jari-jemari saya masih terlalu lemah untuk memainkan gitar. Tapi dari situlah keinginan pertama saya di dunia music bermula.
Memasuki dunia SMP, saya mulai mengenal banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak yang sudah menguasai gitar. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Agah Nugraha, my best partner in everyway. Dia sangat lihai bermain gitar, dia mengenal barbagai music, dan dia juga sangat tahu tentang music karena dia hidup di keluarga yang memang bermusik. Dari mulai kakak pertamanya yang seorang gitaris, kakak keduanya yang jago banget bermain drum. Dan kalau kalian liat jari-jemarinya begitu panjang dan kokoh. Terlihat lemas tapi kokoh, itulah tangan seorang Agah. Satu lagi yang saya ambil dari dirinya ialah memainkan gitar untuk menarik hati para wanita. Damn. Saya sangat menyukai hal itu. Bagaimanapun seorang gitaris selalu berada di depan saat perform di stage. Dan wanita pasti memalingkan pandangan mereka dari vokalis bila permainan gitar kita begitu indah terdengar di telinganya. Hahahaha.
Saya seorang otodidak dalam gitar, sama seperti sahabat saya. Tak perlu menggunakan jasa seorang guru les gitar untuk membuat permainan kita jago. Dan setiap Agah memainkan gitar saya selalu memasang mata dan telinga saya untuk mendapatkan ilmunya. Karena perlu kalian ketahui memainkan gitar itu tidak cukup hanya melihat apa yang mereka mainkan, tapi perlu mendengarkan juga, agar telinga kita terlatih untuk menangkap suara yang dia mainkan. Dan pada akhir kelas 2 SMP saya dan kakak saya dibelikan gitar oleh orangtua. Itu adalah gitar pertama, Yamaha. Terlihat bagus karena saat itu saya masih amatir, belum mengenal banyak gitar. Setelah sekarang tahu, saya jarang memainkannya lagi, sound yang dihasilkan gitar Yamaha itu jelek. Damn.
Akhirnya SMA saya bareng lagi bersama Agah, dan saat itu kami sudah sangat kompak sekali. Kami membentuk band, Schotlet kalau tidak salah namanya. Kami sering main dan tampil di beberapa festival music di Kuningan. Cukup untuk menambah pengalaman saya di dunia music. Sebelum akhirnya band kami terpecah hanya karena suara sang vokalis yang jelek dan so keren dinilai menjadi point minus di band kami. Setelah perpecahan itu kami berpencar, Agah bermain dengan band anak-anak senior. Saya vakum meski masih tetap main gitar. Dan barulah saat saya kelas 3 saya sering diajak ngeband oleh anak-anak kelas untuk acara ulang tahun SMA sampai acara perpisahan. Tapi itu hanya iseng belaka. Karena tak jarang di band itu saya harus memainkan bass. Hahahaha. Untungnya saya lihai, karena saya suka mengulik beberapa scale dari beberapa majalah music yang saya baca.
Tapi sayangnya saya tidak mempunyai senjata ampuh untuk meramaikan dunia music di panggung perkuliahan. Saya berharap saya punya gitar electric, itu merupakan langkah awal yang paling pasti menuju dunia music. Ibanez, fender, atau Yamaha juga tak apa. Atau bahkan Cort X6 juga saya impikan. Namun orangtua saya tidak semurah hati itu untuk mengembangkan sisi hobby saya. Padahal di otak saya ini sudah terkumpul gagasan-gagasan music, mulai dari nama band saya nanti, jenis music yang dimainkan, dan apapun konsepnya sudah dan akan terus saya pikirkan. Karena saya (maaf) membenci aliran dan jenis music melayu yang menguasai Indonesia. Kadang saya ingin berontak untuk menghancurkan mereka. Mereka yang menjual sisi kelabu dari kisah percintaan manusia.
Suatu hari nanti mungkin saya harus membelinya. Karena kemampuan saya sudah tidak bisa diaplikasikan di gitar akustik lagi, saya harus sudah mengeksplornya ke gitar electric.
Terdengar seperti seorang ksatria tanpa senjata. hahahaha
Sabtu, 04 Desember 2010
tidur...
mari kita hargai sebuah proses tanpa harus melihat hasil akhir....
karena koin hanya memberikan 2 buah pilihan, angka atau burung garuda ? selalu berkutat di dua hal yang sama.
dan benar, diam bukan sebuah jawaban. tentu saja benar. karena itu memang benar.
Minggu, saya mohon jangan ajukan beberapa pertanyaan khusus untuk hari ini ? saya cukup lelah untuk bangun, biarkan saya tidur, biarkan saya tertidur, dan biarkan semua kembali tertidur.
karena koin hanya memberikan 2 buah pilihan, angka atau burung garuda ? selalu berkutat di dua hal yang sama.
dan benar, diam bukan sebuah jawaban. tentu saja benar. karena itu memang benar.
Minggu, saya mohon jangan ajukan beberapa pertanyaan khusus untuk hari ini ? saya cukup lelah untuk bangun, biarkan saya tidur, biarkan saya tertidur, dan biarkan semua kembali tertidur.
Langganan:
Komentar (Atom)