Hubungan terus berlanjut, dan terkadang Saya disuruh nyamper ke sekolah di sore hari karena Dhea juga di sekolah. Dan ternyata Dhea sering bertemu Harvian yang sengaja ingin bertemu. Tapi yang Saya kesal itu setiap setelah bertemu mereka bertengkar bahkan kadang Dhea menangis. Emang mesti seperti itu? Masa Harvian tega bikin Dhea nangis begitu sering? Karena Dhea sering bercerita tentang Harvian kepada Saya. Dan Saya adalah sosok netral yang sama sekali tidak pernah ada niatan membuat hubungan mereka berakhir, bahkan terkadang Saya membela Harvian meskipun pada akhirnya tetap saja Dhea yang menang dalam argumennya. Dia pandai bersilat lidah. Lama-kelamaan Harvian sering menghilang dan membuat Dhea kesal, dan Saya memang selalu ada untuknya. Dan ada satu kejadian lucu waktu itu. Dhea yang sangat menyukai The Changcuters terutama gitarisnya Alda diberitahu Harvian bahwa Alda telah berpacaran dengan Nindy. Sontak Dhea menangis di sekolah yang memang pada hari itu sedang bermain bersama Winny. Dan ujung-ujungnya Saya disuruh ke sekolah juga dengan alas an dia nangis. Kebetulan saat itu Saya sedang tidak punya uang dan Jaka(teman sekamar di kostan) sedang pulang. Saya pun memaksakan datang ke sekolah. Setelah tiba disana, Saya bertemu Winny yang sedang ngobrol berdua bersama seorang lelaki yang sama sekali tidak Saya kenal. Lalu benar saja Dhea sedang menangis di depan kelas X2. Saya mendekatinya, lalu mengajak untuk berbicara. Tapi Dhea malah seolah melampiaskan kemarahan dengan memukul-mukul pintu kelas. Entah sampai sekarang Saya belum tahu kemarahannya pada Harvian atau hanya pada gossip itu. Lama Saya terdiam membiarkannya tenang, sampai akhirnya Saya menanyakan sosok lelaki yang sedang bersama Winny. Akhirnya dia berhenti menangis dan menjelaskan bahwa lelaki itu pacarnya Winny hasil dari perkenalan situs jejaring social. Saya kaget dan tak percaya sebelum Dhea menjelaskan dan Kami pun akhirnya bias tertawa lagi. Semakin sore Jenong(pacarnya Winny) mengajak makan dan Kami pun pergi ke Rumah Makan depan sekolah Kami. Setelah makan Kami mengantar Jenong ke kostan anak kelas X yang Saya lupa namanya. Sudah malam itu dan kemudian Dhea mengantarkan Winny pulang. Saya yang tadinya berniat berjalan kaki ke kostan karena memang sudah tidak punya uang diajak Dhea pulang bareng tapi Saya harus nungguin dia nganterin Winny terlebih dulu. Setelah itu Kami berdua pulang,dan Saya turun di kostan Saya yang tidak terlalu jauh jaraknya. Tapi Saya khawatir saat Dhea pulang,karena sudah terlalu malam dan rumahnya cukup jauh dan jalanan basah akibat hujan sore. Dan untungnya Dhea menginap di rumah neneknya dan kalau tidak salah saat itu Dhea dikasih baju baru oleh neneknya. Dan betapa betenya Saya saat mengetahui di acara infotainment bahwa yang jadian dengan Nindy bukan Alda melainkan Qibil!! Sempat terpikir bela-belain nyamper ga punya duit hanya gara-gara gossip tai dari Harvian? Tapi tak apalah, yang penting Dhea sudah tidak menangis lagi. Terlihat jelas disana sosok Saya yang memang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari 14 February, itu hari ulang tahun Dhea. Dan waktu itu adalah tepat 17 tahunnya dia. Saya tahu itu ulang tahunnya tapi Saya tidak berniat datang ke ulang tahunnya dan memberikan sebuah kado di hari spesialnya itu. Karena Saya juga berpikiran pasti ada Harvian, entah kenapa Saya semakin tidak ada niatan kesana. Sabtu,ya itu hari Sabtu. Dan kebetulan Agah dan Jaka tampil di acara band depan sekolah. Dari itu Saya ke rumah Edwar(anak kelas XII IPS 3) untuk meminjam baju karena Saya sedang malas pulang ke kostan. Saya pun memakai pakaian yang berantakan plus sandal hotel yang tipis dari Edwar. Saat menonton Agah(my best partner) manggung tiba-tiba Dhea menelepon dan meminta Saya datang ke pesta ulang tahunnya di rumah neneknya. Malas semalas-malasnya saat itu,karena Saya pengen nonton band dan juga Saya berpikir kalau Saya kesana dengan pakaian seperti itu akan tampak mengacaukan sekali. Telepon kedua dari Dhea karena Saya belum beranjak dari tempat acara band. Dhea ingin Saya ada disana. Pemikiran semakin tidak karuan karena disana hanya ada anak kelasnya saja kecuali Dyah(temen se-genknya). Tapi Dhea tidak akan menutup teleponnya sampai Saya menyalakan mesin motor dan berangkat. Saat itu hujan. Saya pun mengajak Edwar yang memang kebetulan teman sekelasnya. Tiba disana pakaian Saya agak basah dan ya ampun semua berpakaian rapi kecuali Saya!! Dengan malunya Saya masuk dan hanya duduk dipojok belakang bersama Edwar tanpa banyak aksi. Dhea memakai pakaian apa ya namanya, gaun mungkin, atau dress pokonya warnanya hitam. Setelah dibuka dengan do’a acara pun terus berlangsung sampai pada pemotongan kue. Potongan pertama diberikan kepada Papah dan Mamahnya. Dan dengan resehnya si pembawa acara meminta untuk memberikan potongan kue untuk orang yang special. Oh iya disana Saya tidak melihat sosok Harvian. Lalu Dhea pun berniat memberikan kue itu pada Ajeng(temen terdeketnya). Namun ternyata itu hanya lewat saja,semakin mendekati Saya yang duduk dipojok. Pandangannya menatap Eka(ketua kelasnya) dan Fajar(temen sekelasnya). Tapi ternyata bukan mereka, lalu siapa? Ajeng dan yang lain malah menyebut nama Saya. Apa mereka tahu perasaan Saya saat itu? Berdebar dan berdoa semoga bukan Saya, karena disana ada orangtuanya dan Saya sangat tidak ingin memberi kesan buruk di saat seperti itu. Tapi Dhea malah memilih memberikan potongan kue itu ke Saya. Tidak diberikan,dicolekkan kue itu ke muka Saya lebih tepatnya. Dan si pembawa acara yang memang memiliki peranan dalam acara menawarkan Saya untung memberikan sedikit kata-kata baik untuk Dhea maupun orangtuanya. Sayang, Saya tidak mempersiapkan apapun untuk hari Sabtu itu. Bahkan untuk memberikan sedikit kata sekalipun. Saya hanya terdiam, dan malu kerena memalukan.
Sepulang dari acara itu Saya sms Agah dan bercerita tentang kejadian tersebut. Dan gilanya dia malah menyuruh Saya mengatakan cinta pada Dhea, dia sangat yakin pada saat itu. Saya mencoba mengelak dan memberikan sugesti bahwa yang dia lihat dan dengar tidak seperti yang Saya rasakan saat itu. Sepertinya memang rasa saying sudah mulai ada pada diri Saya sendiri, tapi ada factor lain yang benar-benar tidak ingin Saya hiraukan. Harvian,itu alasan kuat Saya untuk tetap diam. Namun setelah lama berdebat Saya mulai berpikir bahwa tidak ada salahnya mencoba meskipun Saya yakin sekali pasti Dhea menolak. Dan sesampainya dirumah Saya pun menelepon Dhea, saat bicara Saya tidak berani ngomong tentang itu. Setelah telepon mati saya sms dan bilang tentang itu dan jawabannya memang benar seperti yang Saya pikirkan sebelumnya. Tak apalah, tapi Saya mulai memikirkan hari Senin apabila bertemu. Berkecamuklah perasaan Saya saat itu, tapi Saya sempat merasakan kekecewaan juga saat Dhea menolak. Apa itu ? apa benar Saya sayang ?
Sudah mendekati acara ulang tahun sekolah dan tanpa sengaja saat Saya berkunjung ke rumah teman Saya dikenalkan dengan keponakannya yang anak SMP. Karena dia mau bertanding di perlombaan yang diadakan di sekolah Saya dia pun sering menanyakan tentang sekolah Saya itu. Widy namanya,pemain volley SMP yg kebetulan tempat Saya sekolah dulu. Dan inilah cerita menariknya antara Saya, Dhea dan cinta. Saat seperti biasa sore Kami smsan dan Saya juga sedang smsan sama Widy juga. Dan entah mengapa di waktu yang hamper bersamaan Dhea mengirim sms yang intinya “dhe sayang adiy” tapi 2 menit sebelumnya Widy juga begitu, dan karena Widy anak SMP Saya hanya ingin main-main saja. Tapi Widy salah mengartikannya, Widy menganggap bahwa Saya dan dia telah jadian. Dan setelah Saya membaca sms dari Dhea itulah momen paling goblok di dunia yang Saya rasakan. Menyesal dan menyesal. Karena suatu hari Dhea pasti tahu tentang itu. Dan setelah itu Saya dengan Widy dan Dhea Nampak semakin retak dengan Harvian. Anehnya, Saya lebih sering menghabiskan waktu bersama Dhea dan jarang dengan Widy begitupun saat berkomunikasi. Inbox Saya penuh dengan sms dari Dhea ketimbang dari Widy yang memang saat it terus Saya buat jengkel agar hubungannya segera berakhir. Dan ini fase yang sangat Saya benci, ada seorang mahasiswa yang mendekati Dhea(entah kenapa dari kelas X Saya sangat membenci jika ada mahasiswa yang berpacaran dengan anak SMA). Vicky namanya. Dan sialnya pernah suatu hari saat Saya sedang membeli makanan di depan tangga stadion Saya memperbincangkan tentang masa depan, dan Saya bilang pada Edwar ingin memanjangkan rambut seperti musisi screamo. Eh,anjing banget disana ada Vicky dan Edwar yang memang kenal bilang ikuti aja gaya rambutnya. Saya tahu bahwa Vicky sedang mendekati Dhea dengan bantuan Winny. Saat Saya pulang tapi kerumah Edwar Saya putus dengan Widy. Tidak terlalu berasa(nanti akan terasa). Eh iya waktu Saya jadian sama Widy Saya dibego-begoin sama Debby(temen se-genknya Dhea juga) katanya kenapa tidak sabaran dan main-main seperti itu. Tapi Saya memang dalam posisi sulit saat itu, terlalu lama menunggu dan jugafaktor main-main adalah jawabannya. Berlanjut lagi saat Saya izin keluar dengan Galih(temen sekelas Saya), Saya berhenti di depan Smanda dan ke warnet untuk mengecek situs jejaring social Saya. Saat Saya membuka profil Dhea dengan status “ I love you Audiovictoria” Saya terdiam. Hancurlah seketika perasaan Saya saat itu. Makin teringat kata-kata teman sekelas “gajah di depan mata tidak terlihat,tapi semut yang diujung pulau masih terlihat” makin sering Saya dengar. Tolol,bodoh,dan serasa orang terbego di dunia. Mulai terpikir saat waktu sudah menunjukkan bahwa gerbang SMA akan segera dilalui. Saya akan berpisah dengannya tanpa sempat mengucapkan dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi?
Dhea semakin jauh dengan kebahagiaannya bersama Vicky dan Saya pun larut dalam penyesalan tanpa batas menjalani sekolah. Bosan disekolah dan Saya menjadi liar lagi. Namun saat pikiran tak tersadar teringat satu nama,Gyna. Cewek pertama yang nolak cinta Saya pada saat kelas 2 SMA. Dan hampir 1 bulan Saya tidak hubungi lagi karena Saya marah candaannya yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba Saya mengirim sms pada sahabat dekatnya Gyna,Ega. Dan Saya bilang bahwa Saya kangen Gyna. Dan ternyata saat bersamaan Gyna juga sms sama ke Egad an dia bilang sedang menangis menyesal karena bercanda berlebihan. Karena tahu Gyna menangis langsung Saya telepon dan dengan kejutan Saya pakai private dan sukses mendengar suara Gyna yang sedang menangis kembali tertawa. Lama Saya tidak bertemu Dhea karena sudah UN jadi tidak wajib ke sekolah,pernah juga Saya sms namun Dhea tidak mengenali nomor yang Saya gunakan. Betapa betenya Saya. Saya sudah tidak terlalu berharap lagi, Dhea bahagia dengan Vicky. Itu yang Saya lihat,masih nyesel sih tapi jauh dari saat Dhea bersama Harvian nampaknya. Untuk apa Saya mengganggu kebahagiaannya? Sampai saat perpisahan dan pelulusan tak ada momen yang Saya abadikan sama Dhea. Saking tidak dekatnya lagi Kita berdua. Meskipun sesekali Saya sering melihat,memperhatikannya dari jauh. Saya tak berani mendekat lagi. Dan saat pelulusan,setelah saya coret-coret Saya pergi kerumah Gyna yang saat itu minta dibantuin mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya. Saya pulang malam, dan Sayabilang ke Gyna bahwa Saya sayang dia, dan dia pun begitu. Hari yang indah diujung warna putih abu-abu. Tapi banyak yang tak sempat Saya lakukan di sekolah. Dan yang paling menyesakkan yaitu tak sempat sama sekali memberitahukan pada Dhea apa yang Saya rasa dan alami saat SMA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar