tai lah..........
ngilang gitu aja...
oke sih,ngasih gue kesempatan,sekaligus membunuh keramaian dan keceriaan.
ayolah,gue butuh elu di kehidupan gue...
tau ah pusing gue nyikapinnya juga.
Cari Blog Ini
Rabu, 22 September 2010
Senin, 20 September 2010
episode IV
Episode terakhir yang Saya buat. Lama Saya tak berkomunikasi dengan Dhea dan saat Saya putus dengan Gyna dia tahu dan dia kita pun mulai smsan lagi. Saya memang sayang Gyna, tapi rasa sakit hati saat putus dengan Gyna lebih besar lagi. Itu karena alasan Gyna yang aneh dan sampai saat ini belum Saya temukan jawabannya. Itu Oktober,tepat satu bulan sebelum ulang tahun Saya. Semakin sakit hati karena setiap ulang tahun Saya selalu sendiri. Dan Gyna memang tidak mengucapkan, tapi hanya Dhea yang menelepon tengah malam mengucapkan. Dia memang baik, Dhea memang bukan yang tercantik tapi dialah yang paling baik sampai saat ini. Waktu terus berlalu, datang menghilang sering terjadi karena jarak memang memisahkan juga. Dan February menjelang ulang tahun Dhea, Saya ingin memberinya kejutan. Karena dulu Dhea sangat menyukai The Changcuters Saya mencoba mencari merchandise dari The Changcuters dan Saya tak menemukannya. Sampai akhirnya setelah browsing di internet Saya menemukannya, dan sesegera mungkin Saya mencarinya. Sangat sulit,hingga akhirnya Saya pesan secara online. Saya memilih memberinya baju The Changcuters edisi terbarunya saat itu. Namun kendala datang lagi, Saya tidak punya uang cukup hingga akhirnya Saya membuka tabungan Saya. 2 hari menjelang ulang tahunnya barang belum dikirim meski uang sudah ditransfer. Dan Saya memutuskan mengambil ke orang dari manajemennya. Tenang hati saat barang sudah didapat. Dan Saya pulang kerumah untuk mengantarkannya. Pada malamnya sebelum Minggu Dhea berulang tahun, Saya mencoba meneleponnya. Tapi apa daya, Dhea sedang menerima telepon dari orang lain. Bete dan sakit hati rasanya. Pasti orng itu special sekali. Minggu siangnya Saya kerumah Agah untuk minta dibungkuskan kado karena Agah punya toko buku. Saya disuruh memilih bungkusnya. Asli, Saya masih bete dengan kejadian semalam jadi saat ngobrol sama Agah dia menawarkan bungkus kado yang beda. Saya tahu maksud Agah adalah agar Dhea mengingatnya, namun beda dalam pikiran Saya. Saya ingin menunjukkan bahwa Saya kesal padanya dengan kado itu. Dipilihlah bungkus buku yang berwarna gelap. Saya remas-remas agar nampak kusut. Setelah itu Saya masukkan selembar kertas ucapan sekaligus menyampaikan kekecewaan yang sampai hari ini tidak diketemukan lagi kertasnya tanpa sempat Dhea membacanya. Dan diluar kadonya saat tulis kalimat membuat si kado tampak norak dan jelek. Tapi Saya puas. Sorenya Saya berangkat untuk kerumah Dhea. Ditemani Aris untungnya,karena Saya belum pernah kerumah Dhea. Dan saat pertama kali Aris melihat kadonya dia tertawa dan salut,kado pertama yang beda yang dia lihat. Hujan mulai turun saat kami berangkat, dan sesampainya disana kami tersesat dan disesatkan nenek tua dijalan. Barulah setelah Windy(adiknya Dhea) menghampiri kami merasa tenang. Dan saat Saya memberikan kadonya Windy terkejut melihat kadonya(buruk sekali tampilannya memang). Dan Saya pun menitip pesan jangan sampai dibuka sampai Dhea pulang,dan jangan beritahu bahwa Saya yang memberikannya. Karena sebenarnya Saya tidak mau Dhea tahu, dan entah kenapa Saya ingin Dhea berpikir bahwa yang memberi itu bukan Saya. Tapi sialnya saat malal perjalanan pulang Dhea menelepon dan mengucapkan terimakasih. GAGAL sudah kejutan itu. Dhea tahu kado itu, tapi untungnya selembar kertas yang Saya tulis juga hilang. Entah bagaimana cara Windy membukanya.
Sampai hari ini saya masih berhubungan dengannya dan sekarang dia di Jakarta dan akan tinggal disana untuk kuliah. Jarak tak pernah bersahabat dengan kami. Dan Jakarta,ah…Jakarta. “Ah Jakarta” bisa terasa beda saat kita mengucapkannya dengan nada yang beda. Kekhawatiran tak beralasan Saya tentang pergaulan Jakarta dengannya sering terpikirkan. Entah,saya selalu khawatir akan ibukota dan isinya. Dan dengan begitu cepat ataupun lambat dia akan menemukan lelaki yang akan menjadi seorang yang special dihatinya. Karena saya sadar, ini bukan waktu SMA lagi, ini tidak sedekat saat sekolah, dan frekuensi pertemuan pun jauh berbeda dengan SMA. Dan saya berdoa semoga dia tidak bertemu orang yang mungkin bisa saja menghancurkannya. Menghancurkan mimpi orangtuanya. Semoga itu tidak terjadi padanya,dan semoga itu hanya kekhawatiran kosong seorang Ady Prawira Riandi. Dan disaat Dhea menemukan kekasihnya, percayalah saya disini akan selalu tersenyum melihat kebahagiaannya. Karena saya sendiri belum tahu kapan perasaan saya ini berubah terhadapnya,meski sudah direntangkan jarak. Tak apalah,masih ada banyak waktu untuk menghilangkan rasa itu.
Saya menulis ini bukan karena saya berharap begitu besar kepadanya,namun saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan sejak dulu. Dan setelah tulisan ini selesai saya akan merasa lega sekali. Dan inspirasi terbesarnya setelah mendengarkan lagu My Sunshine dari Copeland. Saya terdiam saat mendengar lagu itu dan merasa mereka menciptakan lagu itu untuk saya. Dan Dhea, waktu selalu melarang kita untuk bersama. Karena saat saya sendiri kamu berdua,dan saat saya berdua kamu sendiri. Tuhan belum(hahaha,masih saja berharap) memberi kesempatan. Ekspektasi besar Saya berikan untuk yang satu ini.
Tuhan belum memberikan kenyamanan seperti yang Saya rasakan bersama Dhea. Itu yang sedang Saya cari sampai saat ini, sampai saat dimana Saya hanya melihat ke belakang. Saya mencari kenyamanan hati seperti itu, kenyamanan jiwa yang tak bisa dijelaskan, dan tanpa Dhea sadari dia menciptakan pribadi Ady Prawira Riandi untuk mencintai gadis-gadis seperti Dhea meski dalam versi berbeda. Dan anehnya tetap dirinya yang terganti disini, di kesepian ini, di kesendirian ini. Terimakasih Dhea Febryanita Putri.
“ you are my sunshine, my only sunshine. You make me happy when skies are grey. You never know dear how much I love you. Please don’t take my sunshine away.”
Sampai hari ini saya masih berhubungan dengannya dan sekarang dia di Jakarta dan akan tinggal disana untuk kuliah. Jarak tak pernah bersahabat dengan kami. Dan Jakarta,ah…Jakarta. “Ah Jakarta” bisa terasa beda saat kita mengucapkannya dengan nada yang beda. Kekhawatiran tak beralasan Saya tentang pergaulan Jakarta dengannya sering terpikirkan. Entah,saya selalu khawatir akan ibukota dan isinya. Dan dengan begitu cepat ataupun lambat dia akan menemukan lelaki yang akan menjadi seorang yang special dihatinya. Karena saya sadar, ini bukan waktu SMA lagi, ini tidak sedekat saat sekolah, dan frekuensi pertemuan pun jauh berbeda dengan SMA. Dan saya berdoa semoga dia tidak bertemu orang yang mungkin bisa saja menghancurkannya. Menghancurkan mimpi orangtuanya. Semoga itu tidak terjadi padanya,dan semoga itu hanya kekhawatiran kosong seorang Ady Prawira Riandi. Dan disaat Dhea menemukan kekasihnya, percayalah saya disini akan selalu tersenyum melihat kebahagiaannya. Karena saya sendiri belum tahu kapan perasaan saya ini berubah terhadapnya,meski sudah direntangkan jarak. Tak apalah,masih ada banyak waktu untuk menghilangkan rasa itu.
Saya menulis ini bukan karena saya berharap begitu besar kepadanya,namun saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan sejak dulu. Dan setelah tulisan ini selesai saya akan merasa lega sekali. Dan inspirasi terbesarnya setelah mendengarkan lagu My Sunshine dari Copeland. Saya terdiam saat mendengar lagu itu dan merasa mereka menciptakan lagu itu untuk saya. Dan Dhea, waktu selalu melarang kita untuk bersama. Karena saat saya sendiri kamu berdua,dan saat saya berdua kamu sendiri. Tuhan belum(hahaha,masih saja berharap) memberi kesempatan. Ekspektasi besar Saya berikan untuk yang satu ini.
Tuhan belum memberikan kenyamanan seperti yang Saya rasakan bersama Dhea. Itu yang sedang Saya cari sampai saat ini, sampai saat dimana Saya hanya melihat ke belakang. Saya mencari kenyamanan hati seperti itu, kenyamanan jiwa yang tak bisa dijelaskan, dan tanpa Dhea sadari dia menciptakan pribadi Ady Prawira Riandi untuk mencintai gadis-gadis seperti Dhea meski dalam versi berbeda. Dan anehnya tetap dirinya yang terganti disini, di kesepian ini, di kesendirian ini. Terimakasih Dhea Febryanita Putri.
“ you are my sunshine, my only sunshine. You make me happy when skies are grey. You never know dear how much I love you. Please don’t take my sunshine away.”
episode III
Resmi sudah Saya menjadi mahasiswa Unpad dan meninggalkan semua ending buruk di SMA. Bahkan Saya tidak tahu mau kemana Dhea melanjutkan, hanya mendengar berita dari teman saja. Karena tidak ada kegiatan Saya sering main kerumah Gyna,dan satu hari Gyna mau berangkat les ke depan Griya. Saya pun mengantarkannya kesana, dan sesaat setelah turun dari kendaraan Saya melihat Dhea baru keluar dari Griya bersama Dyah, Saya ingin segera berlalu tanpa harus Dhea melihat. Tapi sayang Dyah memnggil dan Saya pun menyapa mereka yang diseberang dari kejauhan. Malamnya Saya berkomunikasi dengan Dhea, dan Dhea pun menanyakan dengan siapa Saya tadi sore. Tanpa ragu Saya bilang Gyna, karena Saya tahu Dhea masih dengan Vicky.
Lagi-lagi saat bertemu dengan teman mereka menanyakan Dhea,kemana Dhea?kuliah dimana dia?banyak yang bertanya tentangnya,tapi sayangnya justru kepada Saya. Membuat perasaan yang dulu tak pernah mati. Entah kapan Dhea berakhir hubungannya bersama Vicky. Sumpah,Saya kehilangan komunikasi meskipun masih sering Saya menanyakan kabar dan akan kemana dia melanjutkan sekolah pada Debby. Dan Dhea katanya mau ke Kediri, Pare tempat kursus yang dulu pernah dia ceritakan pada Saya saat tempat itu masuk liputan di suatu acara alam.
Oh iya baru Saya ingat saat konvoi puncak perayaan ulang tahun sekolah Saya pergi sama Dhea. Dan tanpa Dhea tahu sebenarnya sebelum hari berangkat konvoi Saya telah mengajak Mey terlebih dahulu! Saya mengajak keduanya,dan tapi Dhea belum pasti ikut bareng Saya. Kalau Mey sudah pasti ikut. Tapi menjelang keberangkatan Dhea ingin bareng karena Ajeng bareng Agung, Winny bareng Dodi, Reni bareng Dyah menggunakan motor Dhea, danSaya lupa Debby sama Sherly berangkat sama siapa. Pas pagi Saya baru tahu bahwa Mey sudah siap berangkat bareng Saya, tapi Saya ingin bareng Dhea. Dan memutuskan bareng Dhea ketimbang Mey. Saat Mey tahu, dia marah dan kecewa pada Saya. Dan akhirnya Saya dibenci dikelas Saya sendiri hampir satu pekan lamanya.
Dulu juga Saya pernah memberikan kata-kata yang entah darimana Saya dapatkan saat malam-malam ingin membuat Dhea tidak down akibat banyaknya masalah yang datang kepadanya. Itu sms penutup dari Saya dan Saya berkata bahwa dibalik awan kelam itu sudah ada matahari yang siap menyinari kembali. Semacam itulah,karena Saya lupa sms aslinya. Itupun entah darimana Saya dapat,karena nyatanya saat sekarang ingin merangkai kalimat itu lagi pasti ada satu kata yang kurang. Atau memang karena kalimat itu hanya untuk sekali dibuat? Kalimat itu manjur,karena dipagi hari saat Saya membuka handphone ada sms Dhea yang malah menyebut bahwa Sayalah matahari yang akan selalu menyinarinya. Betapa bahagianya perasaan Saya saat itu. Tapi Saya memang selalu ada untuk Dhea, tapi jarang sekali Saya bicara ada saat-saat dimana Saya membutuhkannya juga.
Teringat juga saat Dhea sedang bertugas dengan Pecinta Alam (karena memang dia tergabung disana) saat camping anak-anak Smantika. Saat itu memang tepat malam api unggun, dan Saya memang berniat datang kesana karena teman-teman memang akan kesana. Dan disana, Saya tak sengaja menghampiri tenda anak-anak PA karena bagaimanapun siapa yang mau Saya jenguk disana? Hanya sekedar bermain saja. Tapi Saya bertemu Dhea disana,sedang duduk diluar tenda,terlihat kelelahan, Saya pun menghampirinya dan duduk disebelahnya. Sedikit bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan disana, tak lama Dhea pun menyandarkan kepalanya di pundak Saya. Terasa begitu nyaman bagi Saya. Sayang,saat itu Saya dituduh telah minum alcohol meskipun sebenarnya Saya tidak minum. Dengan pemandangan malam yang kebetulan ada bulannya di langit terasa indah dengan hangatnya si api unggun. Ingin Saya menghabiskan waktu bersamanya disana sebelum akhirnya teman Saya mengajak pergi. Dan Saya pun hanya berlalu meski hati ingin tetap disana duduk menghabiskan malam.
Lagi-lagi saat bertemu dengan teman mereka menanyakan Dhea,kemana Dhea?kuliah dimana dia?banyak yang bertanya tentangnya,tapi sayangnya justru kepada Saya. Membuat perasaan yang dulu tak pernah mati. Entah kapan Dhea berakhir hubungannya bersama Vicky. Sumpah,Saya kehilangan komunikasi meskipun masih sering Saya menanyakan kabar dan akan kemana dia melanjutkan sekolah pada Debby. Dan Dhea katanya mau ke Kediri, Pare tempat kursus yang dulu pernah dia ceritakan pada Saya saat tempat itu masuk liputan di suatu acara alam.
Oh iya baru Saya ingat saat konvoi puncak perayaan ulang tahun sekolah Saya pergi sama Dhea. Dan tanpa Dhea tahu sebenarnya sebelum hari berangkat konvoi Saya telah mengajak Mey terlebih dahulu! Saya mengajak keduanya,dan tapi Dhea belum pasti ikut bareng Saya. Kalau Mey sudah pasti ikut. Tapi menjelang keberangkatan Dhea ingin bareng karena Ajeng bareng Agung, Winny bareng Dodi, Reni bareng Dyah menggunakan motor Dhea, danSaya lupa Debby sama Sherly berangkat sama siapa. Pas pagi Saya baru tahu bahwa Mey sudah siap berangkat bareng Saya, tapi Saya ingin bareng Dhea. Dan memutuskan bareng Dhea ketimbang Mey. Saat Mey tahu, dia marah dan kecewa pada Saya. Dan akhirnya Saya dibenci dikelas Saya sendiri hampir satu pekan lamanya.
Dulu juga Saya pernah memberikan kata-kata yang entah darimana Saya dapatkan saat malam-malam ingin membuat Dhea tidak down akibat banyaknya masalah yang datang kepadanya. Itu sms penutup dari Saya dan Saya berkata bahwa dibalik awan kelam itu sudah ada matahari yang siap menyinari kembali. Semacam itulah,karena Saya lupa sms aslinya. Itupun entah darimana Saya dapat,karena nyatanya saat sekarang ingin merangkai kalimat itu lagi pasti ada satu kata yang kurang. Atau memang karena kalimat itu hanya untuk sekali dibuat? Kalimat itu manjur,karena dipagi hari saat Saya membuka handphone ada sms Dhea yang malah menyebut bahwa Sayalah matahari yang akan selalu menyinarinya. Betapa bahagianya perasaan Saya saat itu. Tapi Saya memang selalu ada untuk Dhea, tapi jarang sekali Saya bicara ada saat-saat dimana Saya membutuhkannya juga.
Teringat juga saat Dhea sedang bertugas dengan Pecinta Alam (karena memang dia tergabung disana) saat camping anak-anak Smantika. Saat itu memang tepat malam api unggun, dan Saya memang berniat datang kesana karena teman-teman memang akan kesana. Dan disana, Saya tak sengaja menghampiri tenda anak-anak PA karena bagaimanapun siapa yang mau Saya jenguk disana? Hanya sekedar bermain saja. Tapi Saya bertemu Dhea disana,sedang duduk diluar tenda,terlihat kelelahan, Saya pun menghampirinya dan duduk disebelahnya. Sedikit bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan disana, tak lama Dhea pun menyandarkan kepalanya di pundak Saya. Terasa begitu nyaman bagi Saya. Sayang,saat itu Saya dituduh telah minum alcohol meskipun sebenarnya Saya tidak minum. Dengan pemandangan malam yang kebetulan ada bulannya di langit terasa indah dengan hangatnya si api unggun. Ingin Saya menghabiskan waktu bersamanya disana sebelum akhirnya teman Saya mengajak pergi. Dan Saya pun hanya berlalu meski hati ingin tetap disana duduk menghabiskan malam.
episode II
Hubungan terus berlanjut, dan terkadang Saya disuruh nyamper ke sekolah di sore hari karena Dhea juga di sekolah. Dan ternyata Dhea sering bertemu Harvian yang sengaja ingin bertemu. Tapi yang Saya kesal itu setiap setelah bertemu mereka bertengkar bahkan kadang Dhea menangis. Emang mesti seperti itu? Masa Harvian tega bikin Dhea nangis begitu sering? Karena Dhea sering bercerita tentang Harvian kepada Saya. Dan Saya adalah sosok netral yang sama sekali tidak pernah ada niatan membuat hubungan mereka berakhir, bahkan terkadang Saya membela Harvian meskipun pada akhirnya tetap saja Dhea yang menang dalam argumennya. Dia pandai bersilat lidah. Lama-kelamaan Harvian sering menghilang dan membuat Dhea kesal, dan Saya memang selalu ada untuknya. Dan ada satu kejadian lucu waktu itu. Dhea yang sangat menyukai The Changcuters terutama gitarisnya Alda diberitahu Harvian bahwa Alda telah berpacaran dengan Nindy. Sontak Dhea menangis di sekolah yang memang pada hari itu sedang bermain bersama Winny. Dan ujung-ujungnya Saya disuruh ke sekolah juga dengan alas an dia nangis. Kebetulan saat itu Saya sedang tidak punya uang dan Jaka(teman sekamar di kostan) sedang pulang. Saya pun memaksakan datang ke sekolah. Setelah tiba disana, Saya bertemu Winny yang sedang ngobrol berdua bersama seorang lelaki yang sama sekali tidak Saya kenal. Lalu benar saja Dhea sedang menangis di depan kelas X2. Saya mendekatinya, lalu mengajak untuk berbicara. Tapi Dhea malah seolah melampiaskan kemarahan dengan memukul-mukul pintu kelas. Entah sampai sekarang Saya belum tahu kemarahannya pada Harvian atau hanya pada gossip itu. Lama Saya terdiam membiarkannya tenang, sampai akhirnya Saya menanyakan sosok lelaki yang sedang bersama Winny. Akhirnya dia berhenti menangis dan menjelaskan bahwa lelaki itu pacarnya Winny hasil dari perkenalan situs jejaring social. Saya kaget dan tak percaya sebelum Dhea menjelaskan dan Kami pun akhirnya bias tertawa lagi. Semakin sore Jenong(pacarnya Winny) mengajak makan dan Kami pun pergi ke Rumah Makan depan sekolah Kami. Setelah makan Kami mengantar Jenong ke kostan anak kelas X yang Saya lupa namanya. Sudah malam itu dan kemudian Dhea mengantarkan Winny pulang. Saya yang tadinya berniat berjalan kaki ke kostan karena memang sudah tidak punya uang diajak Dhea pulang bareng tapi Saya harus nungguin dia nganterin Winny terlebih dulu. Setelah itu Kami berdua pulang,dan Saya turun di kostan Saya yang tidak terlalu jauh jaraknya. Tapi Saya khawatir saat Dhea pulang,karena sudah terlalu malam dan rumahnya cukup jauh dan jalanan basah akibat hujan sore. Dan untungnya Dhea menginap di rumah neneknya dan kalau tidak salah saat itu Dhea dikasih baju baru oleh neneknya. Dan betapa betenya Saya saat mengetahui di acara infotainment bahwa yang jadian dengan Nindy bukan Alda melainkan Qibil!! Sempat terpikir bela-belain nyamper ga punya duit hanya gara-gara gossip tai dari Harvian? Tapi tak apalah, yang penting Dhea sudah tidak menangis lagi. Terlihat jelas disana sosok Saya yang memang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari 14 February, itu hari ulang tahun Dhea. Dan waktu itu adalah tepat 17 tahunnya dia. Saya tahu itu ulang tahunnya tapi Saya tidak berniat datang ke ulang tahunnya dan memberikan sebuah kado di hari spesialnya itu. Karena Saya juga berpikiran pasti ada Harvian, entah kenapa Saya semakin tidak ada niatan kesana. Sabtu,ya itu hari Sabtu. Dan kebetulan Agah dan Jaka tampil di acara band depan sekolah. Dari itu Saya ke rumah Edwar(anak kelas XII IPS 3) untuk meminjam baju karena Saya sedang malas pulang ke kostan. Saya pun memakai pakaian yang berantakan plus sandal hotel yang tipis dari Edwar. Saat menonton Agah(my best partner) manggung tiba-tiba Dhea menelepon dan meminta Saya datang ke pesta ulang tahunnya di rumah neneknya. Malas semalas-malasnya saat itu,karena Saya pengen nonton band dan juga Saya berpikir kalau Saya kesana dengan pakaian seperti itu akan tampak mengacaukan sekali. Telepon kedua dari Dhea karena Saya belum beranjak dari tempat acara band. Dhea ingin Saya ada disana. Pemikiran semakin tidak karuan karena disana hanya ada anak kelasnya saja kecuali Dyah(temen se-genknya). Tapi Dhea tidak akan menutup teleponnya sampai Saya menyalakan mesin motor dan berangkat. Saat itu hujan. Saya pun mengajak Edwar yang memang kebetulan teman sekelasnya. Tiba disana pakaian Saya agak basah dan ya ampun semua berpakaian rapi kecuali Saya!! Dengan malunya Saya masuk dan hanya duduk dipojok belakang bersama Edwar tanpa banyak aksi. Dhea memakai pakaian apa ya namanya, gaun mungkin, atau dress pokonya warnanya hitam. Setelah dibuka dengan do’a acara pun terus berlangsung sampai pada pemotongan kue. Potongan pertama diberikan kepada Papah dan Mamahnya. Dan dengan resehnya si pembawa acara meminta untuk memberikan potongan kue untuk orang yang special. Oh iya disana Saya tidak melihat sosok Harvian. Lalu Dhea pun berniat memberikan kue itu pada Ajeng(temen terdeketnya). Namun ternyata itu hanya lewat saja,semakin mendekati Saya yang duduk dipojok. Pandangannya menatap Eka(ketua kelasnya) dan Fajar(temen sekelasnya). Tapi ternyata bukan mereka, lalu siapa? Ajeng dan yang lain malah menyebut nama Saya. Apa mereka tahu perasaan Saya saat itu? Berdebar dan berdoa semoga bukan Saya, karena disana ada orangtuanya dan Saya sangat tidak ingin memberi kesan buruk di saat seperti itu. Tapi Dhea malah memilih memberikan potongan kue itu ke Saya. Tidak diberikan,dicolekkan kue itu ke muka Saya lebih tepatnya. Dan si pembawa acara yang memang memiliki peranan dalam acara menawarkan Saya untung memberikan sedikit kata-kata baik untuk Dhea maupun orangtuanya. Sayang, Saya tidak mempersiapkan apapun untuk hari Sabtu itu. Bahkan untuk memberikan sedikit kata sekalipun. Saya hanya terdiam, dan malu kerena memalukan.
Sepulang dari acara itu Saya sms Agah dan bercerita tentang kejadian tersebut. Dan gilanya dia malah menyuruh Saya mengatakan cinta pada Dhea, dia sangat yakin pada saat itu. Saya mencoba mengelak dan memberikan sugesti bahwa yang dia lihat dan dengar tidak seperti yang Saya rasakan saat itu. Sepertinya memang rasa saying sudah mulai ada pada diri Saya sendiri, tapi ada factor lain yang benar-benar tidak ingin Saya hiraukan. Harvian,itu alasan kuat Saya untuk tetap diam. Namun setelah lama berdebat Saya mulai berpikir bahwa tidak ada salahnya mencoba meskipun Saya yakin sekali pasti Dhea menolak. Dan sesampainya dirumah Saya pun menelepon Dhea, saat bicara Saya tidak berani ngomong tentang itu. Setelah telepon mati saya sms dan bilang tentang itu dan jawabannya memang benar seperti yang Saya pikirkan sebelumnya. Tak apalah, tapi Saya mulai memikirkan hari Senin apabila bertemu. Berkecamuklah perasaan Saya saat itu, tapi Saya sempat merasakan kekecewaan juga saat Dhea menolak. Apa itu ? apa benar Saya sayang ?
Sudah mendekati acara ulang tahun sekolah dan tanpa sengaja saat Saya berkunjung ke rumah teman Saya dikenalkan dengan keponakannya yang anak SMP. Karena dia mau bertanding di perlombaan yang diadakan di sekolah Saya dia pun sering menanyakan tentang sekolah Saya itu. Widy namanya,pemain volley SMP yg kebetulan tempat Saya sekolah dulu. Dan inilah cerita menariknya antara Saya, Dhea dan cinta. Saat seperti biasa sore Kami smsan dan Saya juga sedang smsan sama Widy juga. Dan entah mengapa di waktu yang hamper bersamaan Dhea mengirim sms yang intinya “dhe sayang adiy” tapi 2 menit sebelumnya Widy juga begitu, dan karena Widy anak SMP Saya hanya ingin main-main saja. Tapi Widy salah mengartikannya, Widy menganggap bahwa Saya dan dia telah jadian. Dan setelah Saya membaca sms dari Dhea itulah momen paling goblok di dunia yang Saya rasakan. Menyesal dan menyesal. Karena suatu hari Dhea pasti tahu tentang itu. Dan setelah itu Saya dengan Widy dan Dhea Nampak semakin retak dengan Harvian. Anehnya, Saya lebih sering menghabiskan waktu bersama Dhea dan jarang dengan Widy begitupun saat berkomunikasi. Inbox Saya penuh dengan sms dari Dhea ketimbang dari Widy yang memang saat it terus Saya buat jengkel agar hubungannya segera berakhir. Dan ini fase yang sangat Saya benci, ada seorang mahasiswa yang mendekati Dhea(entah kenapa dari kelas X Saya sangat membenci jika ada mahasiswa yang berpacaran dengan anak SMA). Vicky namanya. Dan sialnya pernah suatu hari saat Saya sedang membeli makanan di depan tangga stadion Saya memperbincangkan tentang masa depan, dan Saya bilang pada Edwar ingin memanjangkan rambut seperti musisi screamo. Eh,anjing banget disana ada Vicky dan Edwar yang memang kenal bilang ikuti aja gaya rambutnya. Saya tahu bahwa Vicky sedang mendekati Dhea dengan bantuan Winny. Saat Saya pulang tapi kerumah Edwar Saya putus dengan Widy. Tidak terlalu berasa(nanti akan terasa). Eh iya waktu Saya jadian sama Widy Saya dibego-begoin sama Debby(temen se-genknya Dhea juga) katanya kenapa tidak sabaran dan main-main seperti itu. Tapi Saya memang dalam posisi sulit saat itu, terlalu lama menunggu dan jugafaktor main-main adalah jawabannya. Berlanjut lagi saat Saya izin keluar dengan Galih(temen sekelas Saya), Saya berhenti di depan Smanda dan ke warnet untuk mengecek situs jejaring social Saya. Saat Saya membuka profil Dhea dengan status “ I love you Audiovictoria” Saya terdiam. Hancurlah seketika perasaan Saya saat itu. Makin teringat kata-kata teman sekelas “gajah di depan mata tidak terlihat,tapi semut yang diujung pulau masih terlihat” makin sering Saya dengar. Tolol,bodoh,dan serasa orang terbego di dunia. Mulai terpikir saat waktu sudah menunjukkan bahwa gerbang SMA akan segera dilalui. Saya akan berpisah dengannya tanpa sempat mengucapkan dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi?
Dhea semakin jauh dengan kebahagiaannya bersama Vicky dan Saya pun larut dalam penyesalan tanpa batas menjalani sekolah. Bosan disekolah dan Saya menjadi liar lagi. Namun saat pikiran tak tersadar teringat satu nama,Gyna. Cewek pertama yang nolak cinta Saya pada saat kelas 2 SMA. Dan hampir 1 bulan Saya tidak hubungi lagi karena Saya marah candaannya yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba Saya mengirim sms pada sahabat dekatnya Gyna,Ega. Dan Saya bilang bahwa Saya kangen Gyna. Dan ternyata saat bersamaan Gyna juga sms sama ke Egad an dia bilang sedang menangis menyesal karena bercanda berlebihan. Karena tahu Gyna menangis langsung Saya telepon dan dengan kejutan Saya pakai private dan sukses mendengar suara Gyna yang sedang menangis kembali tertawa. Lama Saya tidak bertemu Dhea karena sudah UN jadi tidak wajib ke sekolah,pernah juga Saya sms namun Dhea tidak mengenali nomor yang Saya gunakan. Betapa betenya Saya. Saya sudah tidak terlalu berharap lagi, Dhea bahagia dengan Vicky. Itu yang Saya lihat,masih nyesel sih tapi jauh dari saat Dhea bersama Harvian nampaknya. Untuk apa Saya mengganggu kebahagiaannya? Sampai saat perpisahan dan pelulusan tak ada momen yang Saya abadikan sama Dhea. Saking tidak dekatnya lagi Kita berdua. Meskipun sesekali Saya sering melihat,memperhatikannya dari jauh. Saya tak berani mendekat lagi. Dan saat pelulusan,setelah saya coret-coret Saya pergi kerumah Gyna yang saat itu minta dibantuin mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya. Saya pulang malam, dan Sayabilang ke Gyna bahwa Saya sayang dia, dan dia pun begitu. Hari yang indah diujung warna putih abu-abu. Tapi banyak yang tak sempat Saya lakukan di sekolah. Dan yang paling menyesakkan yaitu tak sempat sama sekali memberitahukan pada Dhea apa yang Saya rasa dan alami saat SMA.
Sampai suatu hari 14 February, itu hari ulang tahun Dhea. Dan waktu itu adalah tepat 17 tahunnya dia. Saya tahu itu ulang tahunnya tapi Saya tidak berniat datang ke ulang tahunnya dan memberikan sebuah kado di hari spesialnya itu. Karena Saya juga berpikiran pasti ada Harvian, entah kenapa Saya semakin tidak ada niatan kesana. Sabtu,ya itu hari Sabtu. Dan kebetulan Agah dan Jaka tampil di acara band depan sekolah. Dari itu Saya ke rumah Edwar(anak kelas XII IPS 3) untuk meminjam baju karena Saya sedang malas pulang ke kostan. Saya pun memakai pakaian yang berantakan plus sandal hotel yang tipis dari Edwar. Saat menonton Agah(my best partner) manggung tiba-tiba Dhea menelepon dan meminta Saya datang ke pesta ulang tahunnya di rumah neneknya. Malas semalas-malasnya saat itu,karena Saya pengen nonton band dan juga Saya berpikir kalau Saya kesana dengan pakaian seperti itu akan tampak mengacaukan sekali. Telepon kedua dari Dhea karena Saya belum beranjak dari tempat acara band. Dhea ingin Saya ada disana. Pemikiran semakin tidak karuan karena disana hanya ada anak kelasnya saja kecuali Dyah(temen se-genknya). Tapi Dhea tidak akan menutup teleponnya sampai Saya menyalakan mesin motor dan berangkat. Saat itu hujan. Saya pun mengajak Edwar yang memang kebetulan teman sekelasnya. Tiba disana pakaian Saya agak basah dan ya ampun semua berpakaian rapi kecuali Saya!! Dengan malunya Saya masuk dan hanya duduk dipojok belakang bersama Edwar tanpa banyak aksi. Dhea memakai pakaian apa ya namanya, gaun mungkin, atau dress pokonya warnanya hitam. Setelah dibuka dengan do’a acara pun terus berlangsung sampai pada pemotongan kue. Potongan pertama diberikan kepada Papah dan Mamahnya. Dan dengan resehnya si pembawa acara meminta untuk memberikan potongan kue untuk orang yang special. Oh iya disana Saya tidak melihat sosok Harvian. Lalu Dhea pun berniat memberikan kue itu pada Ajeng(temen terdeketnya). Namun ternyata itu hanya lewat saja,semakin mendekati Saya yang duduk dipojok. Pandangannya menatap Eka(ketua kelasnya) dan Fajar(temen sekelasnya). Tapi ternyata bukan mereka, lalu siapa? Ajeng dan yang lain malah menyebut nama Saya. Apa mereka tahu perasaan Saya saat itu? Berdebar dan berdoa semoga bukan Saya, karena disana ada orangtuanya dan Saya sangat tidak ingin memberi kesan buruk di saat seperti itu. Tapi Dhea malah memilih memberikan potongan kue itu ke Saya. Tidak diberikan,dicolekkan kue itu ke muka Saya lebih tepatnya. Dan si pembawa acara yang memang memiliki peranan dalam acara menawarkan Saya untung memberikan sedikit kata-kata baik untuk Dhea maupun orangtuanya. Sayang, Saya tidak mempersiapkan apapun untuk hari Sabtu itu. Bahkan untuk memberikan sedikit kata sekalipun. Saya hanya terdiam, dan malu kerena memalukan.
Sepulang dari acara itu Saya sms Agah dan bercerita tentang kejadian tersebut. Dan gilanya dia malah menyuruh Saya mengatakan cinta pada Dhea, dia sangat yakin pada saat itu. Saya mencoba mengelak dan memberikan sugesti bahwa yang dia lihat dan dengar tidak seperti yang Saya rasakan saat itu. Sepertinya memang rasa saying sudah mulai ada pada diri Saya sendiri, tapi ada factor lain yang benar-benar tidak ingin Saya hiraukan. Harvian,itu alasan kuat Saya untuk tetap diam. Namun setelah lama berdebat Saya mulai berpikir bahwa tidak ada salahnya mencoba meskipun Saya yakin sekali pasti Dhea menolak. Dan sesampainya dirumah Saya pun menelepon Dhea, saat bicara Saya tidak berani ngomong tentang itu. Setelah telepon mati saya sms dan bilang tentang itu dan jawabannya memang benar seperti yang Saya pikirkan sebelumnya. Tak apalah, tapi Saya mulai memikirkan hari Senin apabila bertemu. Berkecamuklah perasaan Saya saat itu, tapi Saya sempat merasakan kekecewaan juga saat Dhea menolak. Apa itu ? apa benar Saya sayang ?
Sudah mendekati acara ulang tahun sekolah dan tanpa sengaja saat Saya berkunjung ke rumah teman Saya dikenalkan dengan keponakannya yang anak SMP. Karena dia mau bertanding di perlombaan yang diadakan di sekolah Saya dia pun sering menanyakan tentang sekolah Saya itu. Widy namanya,pemain volley SMP yg kebetulan tempat Saya sekolah dulu. Dan inilah cerita menariknya antara Saya, Dhea dan cinta. Saat seperti biasa sore Kami smsan dan Saya juga sedang smsan sama Widy juga. Dan entah mengapa di waktu yang hamper bersamaan Dhea mengirim sms yang intinya “dhe sayang adiy” tapi 2 menit sebelumnya Widy juga begitu, dan karena Widy anak SMP Saya hanya ingin main-main saja. Tapi Widy salah mengartikannya, Widy menganggap bahwa Saya dan dia telah jadian. Dan setelah Saya membaca sms dari Dhea itulah momen paling goblok di dunia yang Saya rasakan. Menyesal dan menyesal. Karena suatu hari Dhea pasti tahu tentang itu. Dan setelah itu Saya dengan Widy dan Dhea Nampak semakin retak dengan Harvian. Anehnya, Saya lebih sering menghabiskan waktu bersama Dhea dan jarang dengan Widy begitupun saat berkomunikasi. Inbox Saya penuh dengan sms dari Dhea ketimbang dari Widy yang memang saat it terus Saya buat jengkel agar hubungannya segera berakhir. Dan ini fase yang sangat Saya benci, ada seorang mahasiswa yang mendekati Dhea(entah kenapa dari kelas X Saya sangat membenci jika ada mahasiswa yang berpacaran dengan anak SMA). Vicky namanya. Dan sialnya pernah suatu hari saat Saya sedang membeli makanan di depan tangga stadion Saya memperbincangkan tentang masa depan, dan Saya bilang pada Edwar ingin memanjangkan rambut seperti musisi screamo. Eh,anjing banget disana ada Vicky dan Edwar yang memang kenal bilang ikuti aja gaya rambutnya. Saya tahu bahwa Vicky sedang mendekati Dhea dengan bantuan Winny. Saat Saya pulang tapi kerumah Edwar Saya putus dengan Widy. Tidak terlalu berasa(nanti akan terasa). Eh iya waktu Saya jadian sama Widy Saya dibego-begoin sama Debby(temen se-genknya Dhea juga) katanya kenapa tidak sabaran dan main-main seperti itu. Tapi Saya memang dalam posisi sulit saat itu, terlalu lama menunggu dan jugafaktor main-main adalah jawabannya. Berlanjut lagi saat Saya izin keluar dengan Galih(temen sekelas Saya), Saya berhenti di depan Smanda dan ke warnet untuk mengecek situs jejaring social Saya. Saat Saya membuka profil Dhea dengan status “ I love you Audiovictoria” Saya terdiam. Hancurlah seketika perasaan Saya saat itu. Makin teringat kata-kata teman sekelas “gajah di depan mata tidak terlihat,tapi semut yang diujung pulau masih terlihat” makin sering Saya dengar. Tolol,bodoh,dan serasa orang terbego di dunia. Mulai terpikir saat waktu sudah menunjukkan bahwa gerbang SMA akan segera dilalui. Saya akan berpisah dengannya tanpa sempat mengucapkan dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi?
Dhea semakin jauh dengan kebahagiaannya bersama Vicky dan Saya pun larut dalam penyesalan tanpa batas menjalani sekolah. Bosan disekolah dan Saya menjadi liar lagi. Namun saat pikiran tak tersadar teringat satu nama,Gyna. Cewek pertama yang nolak cinta Saya pada saat kelas 2 SMA. Dan hampir 1 bulan Saya tidak hubungi lagi karena Saya marah candaannya yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba Saya mengirim sms pada sahabat dekatnya Gyna,Ega. Dan Saya bilang bahwa Saya kangen Gyna. Dan ternyata saat bersamaan Gyna juga sms sama ke Egad an dia bilang sedang menangis menyesal karena bercanda berlebihan. Karena tahu Gyna menangis langsung Saya telepon dan dengan kejutan Saya pakai private dan sukses mendengar suara Gyna yang sedang menangis kembali tertawa. Lama Saya tidak bertemu Dhea karena sudah UN jadi tidak wajib ke sekolah,pernah juga Saya sms namun Dhea tidak mengenali nomor yang Saya gunakan. Betapa betenya Saya. Saya sudah tidak terlalu berharap lagi, Dhea bahagia dengan Vicky. Itu yang Saya lihat,masih nyesel sih tapi jauh dari saat Dhea bersama Harvian nampaknya. Untuk apa Saya mengganggu kebahagiaannya? Sampai saat perpisahan dan pelulusan tak ada momen yang Saya abadikan sama Dhea. Saking tidak dekatnya lagi Kita berdua. Meskipun sesekali Saya sering melihat,memperhatikannya dari jauh. Saya tak berani mendekat lagi. Dan saat pelulusan,setelah saya coret-coret Saya pergi kerumah Gyna yang saat itu minta dibantuin mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya. Saya pulang malam, dan Sayabilang ke Gyna bahwa Saya sayang dia, dan dia pun begitu. Hari yang indah diujung warna putih abu-abu. Tapi banyak yang tak sempat Saya lakukan di sekolah. Dan yang paling menyesakkan yaitu tak sempat sama sekali memberitahukan pada Dhea apa yang Saya rasa dan alami saat SMA.
episode I
Berawal dari Alm. Deny yang meminjam handphone Saya untuk mengirim pesan pendek kepada adik kelasnya yang bernama Dhea. Ya,dia Dhea namun panggilan khusus dari Alm. Deny adalah “Feb”. Karena kebetulan saat itu beliau sedang tidak ada pulsa dan menginap di kostan Saya. Itu saat Saya dan Dhea masih SMA. Dan setelah itu smsan Kami berlanjut hanya untuk bercanda saja.
Berlanjut saat di sekolah Kami sering bertemu dan bercanda,hingga Dhea pun mengajak Saya untuk bergabung dengannya ke kelas XII IPS 3. Namun Saya menolak dengan alasan ribet mengurus kepindahan kelas itu. Tapi sebenarnya Saya yang dulu ingin merasakan satu kelas bersama Mey(nanti juga dia ada perannya). Waktu berlalu semakin lama,hingga akhirnya Dhea sering menarik tangan Saya untuk diajaknya ke kantin atau hanya sekedar mengantarnya ke WC. Dhea bilang sih karena tangan Saya kecil,jadi pas buat dia pegang. Pertamanya Saya tidak terlalu suka dengan hal itu namun lama-kelamaan senang rasanya bercanda dan mendengar celotehan Dhea(karena pada dasarnya Saya senang bercanda dan tidak pernah serius). Lalu setiap pulang sekolah saat Dhea sudah sampai rumahnya dan Saya pun sudah di kostan, Dhea sering sms Saya. Dan Saya hafal sekali setiap dia sms pasti teks pertamanya “adiiiiiiyyyyyy”. Ya, itu memang panggilannya kepada Saya. Beda dengan Mey yang lebih suka menulis “die”. Dhea selalu minta ditemani untuk menghabiskan bonus smsnya yang dulu sedang booming Kartu As yang bayar entah berapa untuk dapat beberapa sms ke semua operator. Selalu tidak habis karena pacarnya yang bernama Harvian terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Saya tidak merasa risih atau apa dengan sms Dhea karena kebetulan Saya juga sedang tidak terlalu terobsesi mendekati cewek lain dan juga karena Saya menggunakan paket 2000 smsnya im3 jadi setiap sms Dhea pasti Saya balas. Entah berapa bulan Kami sering smsan dan semakin lama Dhea semakin terbuka tentang dirinya dan apapun yang sedang dia rasakan. Begitupun di sekolah, saat istirahat Kami sering bertemu dan bermain bersama dengan Batre(ini nama genknya gitu di sekolah). Begitu,dan begitu seterusnya.
Sampai sering Dhea mengajak bermain setelah pulang sekolah, karena yang Saya tahu dia itu orangnya tidak kenal lelah. Namun di sekolah lebih tepatnya di kelas Saya XII IPS 1 Saya sering disindir oleh Mey dan teman-temannya karena sering bermain sama Dhea. Kadang Saya bingung dan heran kenapa mereka seperti itu. Dan kadang Saya harus bisa menjaga perasaan antara ingin bermain sama Dhea atau lebih menghargai perkataan Mey(ya mau gimana lagi, Mey mantan Saya kelas X). Lebih kerennya lagi anak cowok di kelas nyangka Saya jadian sama Dhea karena begitu dekat dan jarang melihat Dhea dengan Harvian. Lebih parahnya banyak anak kelas X yang sms ingin sekedar berkenalan tapi malah nyebut takut dimarahin The Dhea. Hey,what hell going on? Saya hanya sahabatnya. Tapi tak apalah karena Saya juga kurang melirik anak kelas X yang baru itu. Entah Dhea tahu atau tidak tentang yang satu itu, karena bukan hanya sekali itu terjadi dan sialnya sampai Saya lulus dari SMA selalu ada saja yang menyangka seperti itu! Puncak dari keanehan di sekolah terjadi saat tanpa sengaja saat istirahat Saya bertukar jam tangan sebentar dengan Dhea. Dan apa yang terjadi? Di kelas Saya disindir habis-habisan oleh Mey dkk. Untuk beberapa hari Saya dikucilkan oleh mereka di kelas.
Berlanjut saat di sekolah Kami sering bertemu dan bercanda,hingga Dhea pun mengajak Saya untuk bergabung dengannya ke kelas XII IPS 3. Namun Saya menolak dengan alasan ribet mengurus kepindahan kelas itu. Tapi sebenarnya Saya yang dulu ingin merasakan satu kelas bersama Mey(nanti juga dia ada perannya). Waktu berlalu semakin lama,hingga akhirnya Dhea sering menarik tangan Saya untuk diajaknya ke kantin atau hanya sekedar mengantarnya ke WC. Dhea bilang sih karena tangan Saya kecil,jadi pas buat dia pegang. Pertamanya Saya tidak terlalu suka dengan hal itu namun lama-kelamaan senang rasanya bercanda dan mendengar celotehan Dhea(karena pada dasarnya Saya senang bercanda dan tidak pernah serius). Lalu setiap pulang sekolah saat Dhea sudah sampai rumahnya dan Saya pun sudah di kostan, Dhea sering sms Saya. Dan Saya hafal sekali setiap dia sms pasti teks pertamanya “adiiiiiiyyyyyy”. Ya, itu memang panggilannya kepada Saya. Beda dengan Mey yang lebih suka menulis “die”. Dhea selalu minta ditemani untuk menghabiskan bonus smsnya yang dulu sedang booming Kartu As yang bayar entah berapa untuk dapat beberapa sms ke semua operator. Selalu tidak habis karena pacarnya yang bernama Harvian terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Saya tidak merasa risih atau apa dengan sms Dhea karena kebetulan Saya juga sedang tidak terlalu terobsesi mendekati cewek lain dan juga karena Saya menggunakan paket 2000 smsnya im3 jadi setiap sms Dhea pasti Saya balas. Entah berapa bulan Kami sering smsan dan semakin lama Dhea semakin terbuka tentang dirinya dan apapun yang sedang dia rasakan. Begitupun di sekolah, saat istirahat Kami sering bertemu dan bermain bersama dengan Batre(ini nama genknya gitu di sekolah). Begitu,dan begitu seterusnya.
Sampai sering Dhea mengajak bermain setelah pulang sekolah, karena yang Saya tahu dia itu orangnya tidak kenal lelah. Namun di sekolah lebih tepatnya di kelas Saya XII IPS 1 Saya sering disindir oleh Mey dan teman-temannya karena sering bermain sama Dhea. Kadang Saya bingung dan heran kenapa mereka seperti itu. Dan kadang Saya harus bisa menjaga perasaan antara ingin bermain sama Dhea atau lebih menghargai perkataan Mey(ya mau gimana lagi, Mey mantan Saya kelas X). Lebih kerennya lagi anak cowok di kelas nyangka Saya jadian sama Dhea karena begitu dekat dan jarang melihat Dhea dengan Harvian. Lebih parahnya banyak anak kelas X yang sms ingin sekedar berkenalan tapi malah nyebut takut dimarahin The Dhea. Hey,what hell going on? Saya hanya sahabatnya. Tapi tak apalah karena Saya juga kurang melirik anak kelas X yang baru itu. Entah Dhea tahu atau tidak tentang yang satu itu, karena bukan hanya sekali itu terjadi dan sialnya sampai Saya lulus dari SMA selalu ada saja yang menyangka seperti itu! Puncak dari keanehan di sekolah terjadi saat tanpa sengaja saat istirahat Saya bertukar jam tangan sebentar dengan Dhea. Dan apa yang terjadi? Di kelas Saya disindir habis-habisan oleh Mey dkk. Untuk beberapa hari Saya dikucilkan oleh mereka di kelas.
Langganan:
Komentar (Atom)